Sunday, January 24, 2010

Melihat ke depan


Dalam perjalanan di sebuah angkutan umum, seorang remaja tiba-tiba minta izin ke sopir untuk pindah tempat duduk. Remaja laki-laki belasan tahun ini merasa tidak keberatan berada jauh dari dua kakaknya yang duduk di bagian belakang. Ia begitu antusias di tempat duduk barunya, persis di samping sopir.

“Kenapa kamu pindah ke depan, Nak?” sapa seorang bapak yang juga menumpang angkot itu.

Belum lagi si remaja itu menjawab, sang bapak kembali berujar. “Bukankah di belakang atau tengah lebih nyaman daripada di depan? Kamu bisa duduk santai tanpa perduli kendaraan melaju seperti apa. Di sana, kamu lebih mudah tertidur!”

Sambil senyum, si remaja ini menoleh ke arah sang bapak. Ia mencoba ingin menjelaskan sesuatu.

“Saya ingin duduk di depan, karena ingin mendapatkan sesuatu yang tidak diperoleh oleh mereka yang di belakang,” ucap si remaja tampak tenang.

Tapi, yang dijelaskan menampakkan wajah penuh bingung. “Maksud anak ini apa, ya?” tanya si bapak lagi.

“Pak…,” lanjut si remaja. “Dengan duduk di depan, saya bisa menyiapkan diri dengan perjalanan yang akan saya tempuh. Kalau jalannya lurus, saya bisa mengira-ngira berapa lama perjalanan akan berakhir. Dan jika berkelok, saya bisa lebih dulu menyiapkan diri untuk keadaan di luar dugaan. Semua itu, tidak saya dapatkan jika saya duduk di tengah, apalagi belakang,” jelas sang remaja.

**

Jika mengibaratkan hidup yang kita lakoni ini dengan sebuah perjalanan, kemampuan dan kemauan untuk melihat ke depan merupakan nikmat tersendiri yang tidak diperoleh oleh mereka yang berpuas diri hanya melihat kanan-kiri, belakang, apalagi memejamkan mata untuk lari dari kenyataan yang ada.

Selain lebih bisa memaknai perjalanan hidup dengan segala suka citanya, kemampuan melihat ke depan perjalanan akan menyiapkan diri untuk siaga dengan suasana ‘kelokan’ jalan hidup yang belum diketahui.

Persis seperti yang diucapkan sang remaja, “Dengan melihat ke depan, saya bisa mendapatkan sesuatu yang tidak diperoleh oleh mereka yang pandangannya hanya di kanan-kiri, atau belakang.”

No comments:

Post a Comment