Wednesday, January 27, 2010

Mei 1998 Yang Tak Terlupakan …


14 Mei 1998 adalah puncak kerusuhan yang berakibat lengsernya pak harto, saya ingat masa – masa itu, dimana mahasiswa dilarang keluar kampus dan hanya boleh melakukan mimbar bebas di dalam kampus. Pernah suatu hari tepatnya hari jumat mahasiswi – mahasiswi Assyafiiah Pondok Gede bersama dengan Universitas Krisnadwipayana terlibat bentrok dengan Polisi kebetulan saya yang bukan mahasiswa persis berada di tengah – tengah bentrokan tersebut saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana mahasiswi yang terjatuh ke selokan ditendang dan dipukul walau sudah terjatuh ke selokan.
Kekerasan Mei 1998 menjadi catatan hitam sejarah negeri ini, bermula dari krisis ekonomi kenaikan BBM yang kemudian bentrokan – bentrokan antara mahasiswa dan aparat yang dimulai 09 mei 1998 di bogor yang puncaknya 12 Mei 1998, mata saya selalu tertuju kepada telivisi yang menayangkan secara langsung bentrokan – bentrokan tersebut. Mahasiswa berguguran bahkan sampai sekarang jasadnya pun tak ditemukan 13 Mei 1998 kerusuhan melebar aparat seakan hilang dari Jakarta, pak Harto yang waktu itu berada di mesir bersegera pulang.
14 Mei 1998 penjarahan dan pembakaran terjadi dimana – mana kekacauan seakan lengkap dengan jatuhnya banyak korban akibat terjebak di gedung – gedung yang di bakar. Teriakan anti cina membuat semua toko di tandai dengan tulisan Pribumi aneh memang mereka yang bermata sipit dan ber rambut cepak tidak aman gentayangan di jalan – jalan semuanya bersembunyi.
Pesta rakyat yang mabuk dengan kebebasan melakukan apa saja, merasakan kemerdekaan selama sekian tahun terkekang oleh pemerintah seakan meminta tumbal ratusan manusia menjadi korban, habis gelap terbitlah terang itu mungkin yang diharapkan era reformasi bergulir, semua yang berbau orde baru dimusuhi tak terkecuali pak harto persis ketika revolusi 1965 bergulir yang berbau orde lama dibantai habis. Semua yang berbau soekarno serta komunis di kejar dan dipenjarakan.
Gejolak republic ini seakan tak pernah habis sejak era reformasi bergulir Presiden yang dulu di takuti dan disegani sekarang tidak lagi, komentar – komentar bernada pedas seakan hal lumrah dan tak perlu ditanggapi, hidup di era reformasi menjadikan orang bebas berteriak Polisi Berdemo dengan penjagaan ketat polisi, wartawan berdemo dengan diliput wartawan rakyat berdemo dengan ditonton rakyat ah ada – ada saja republic ini.
19 mei 1998 saya pulang ke Anyer melewati gedung senayan yang telah diduduki mahasiswa, gedung rakyat yang sehari – hari kelihatan sepi waktu itu ramai seperti pasar malam. 21 Mei 1998 saya menonton telivisi mendengar keputusan Presiden untuk lengser sebagai Presiden RI, hari bersejarah bagi saya mengalami episode sejarah negeri ini.

No comments:

Post a Comment